Sabtu, 27 November 2010

Keputusan salah, masalah datang..

Malam ini pukul 7 aku dan Daniel pergi untuk gladi bersih pada acara aksi natal GKDI (Gereja Kristen Di Indonesia) besok. Aku diantar oleh ayahku pergi ke tempat latihan yaitu di Hotel Kapuas Palace dan berencana nanti pulangnya diantar Daniel. Pada waktu latihan Daniel sudah kalut, karena dia menitipkan fotokopi dan print tugas di toko depan rumahnya yang tutup pukul 8.30. Jadi dia harus pulang sebelum jam 8.30, tapi waktu pada pukul 8 kami masih belum selesai latihan dan check sound, jadi dia menelepon cece nya supaya mengambil titipannya di toko itu, tetapi cece nya menolak. Mau tidak mau aku pun ikut Daniel pulang ke rumahnya karena kalau dia antar aku pulang dulu, maka kemungkinan toko sudah tutup sehingga terlambat ambil (besok udah mo kumpul tugasnya). Kami pun meninggalkan latihan yang masih belum manthap.

Sesampainya di rumah Daniel, keluarganya hendak pergi keluar dan menanyakan siapakah yang akan menjemput aku. Aku pun menjawab ayahku bakal menjemputku. Setelah itu, aku menelepon ayahku dan ternyata ayahku menyuruhku agar pulang diantar Daniel karena ia masih ada acara sampai jam 10. Aku pun menyuruh dengan sedikit memaksa agar Daniel segera mengatarku pulang. Sebenarnya Daniel dilarang keluar karena harus ada yang jaga rumah saat semua pergi, jadi dia pun pergi diam-diam demi mengantar aku pulang. Akhirnya aku pun sampai di rumah.

Daniel pun ngebut untuk pulang karena takut orangtuanya pulang lebih cepat. Setelah itu aku bertanya kepada dia di Ym (Yahoo Messenger), ternyata dia sudah pulang tapi dalam kondisi yang tidak baik. Ia disenggol kabur oleh mobil Jazz. Kakinya pun luka dan darah yang cukup banyak keluar sehingga rumahnya penuh bercak-bercak darah. Aku merasa sangat bersalah, gara-gara aku dia harus mengalami ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah orangtuanya pulang, tetapi ia dibawa ke rumah sakit untuk diobati.

Aku sungguh tidak bisa memaafkan diriku. Gara-gara salah membuat keputusan, teman baikku harus menderita. Ditambah lagi, kami tidak jadi tampil besok karena keadaan dia yang tidak memungkinkan.
Mungkin seharusnya dari awal, aku minta ayahku saja yang menjemput di rumahnya meski jam 10 atau menyuruhnya sekedar mengantar aku ke tempat acara ayahku, yang tidak jauh dari rumahnya, supaya ia tidak usah mengantarku jauh-jauh sampai ke rumahku.

Keputusan selalu kita buat dalam setiap detik, tidak peduli apa pilihan yang tersedia kita tetap harus selalu memilih dan membuat keputusan. Aku akan mengambil hikmah dari kejadian malam ini dan semoga saja kedepannya aku bisa membuat keputusan yang lebih baik. amin.